“Apa makna Bhinneka Tunggal Ika?”

Kapan terakhir kali kita mendengar pertanyaan itu? Atau kapan terakhir kali kita bertanya itu? Hmm sebenarnya bukan mengenai kapan terakhir kita bertanya maupun ditanya, tetapi mengenai kapan kita bisa memaknai pertanyaan itu. Pertanyaan itu seringkali saya dengar entah saat mengajar maupun mendengar guru sedang mengajar siswanya. Bagi saya yang seringkali mendengar, maka saya artikan bahwa jawaban dari pertanyaan itu harus dimaknai dengan sebaik dan sebenar-benarnya. Berbeda-beda tapi tetap satu.

Persiapan Keberangkatan KIS MlakuPersiapan Keberangkatan KIS Mlaku

Hari ini saya (kembali) belajar dari anak-anak tentang itu; Bhineka Tunggal Ika. Bersama dengan kawan-kawan Kelas Inspirasi Surabaya, kami mengadakan KIS Mlaku; gerakan kelas inspirasi dengan menambah konsep ke-bhineka-an. Membawa 174 siswa beragam latar belakang ke 5 perusahaan terpilih (TVRI, MOLINA ITS, PUSVETMA, PROVEST, AUTO2000) untuk berkunjung dan belajar, dimana 174 siswa ini berasal dari SDN Bangkingan II, SDN Putat Jaya I, SD IVY, SD St. Mary, dan SD Khadijah Pandegiling. Beragam bukan? Sebelum hari ini terlewati, sungguh sulit membayangkan bagaimana bisa anak-anak ini nanti mau berbaur satu sama lain.

Faktanya? Memang sulit! Tapi hanya dimenit-menit awal mereka berjumpa. Taman Flora dipagi hari adalah saksinya. Ya, kami berkumpul di Taman Flora dan membagi siswa dari ke-5 sekolah itu menjadi 5 kelompok perusahaan yang berisikan 35 siswa. Kemudian, dalam 1 rombongan belajar akan kembali dibagi 5 kelompok yang terdiri 7 siswa dari ke-5 sekolah tersebut. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak saling mengenal meski hanya di kelompok kecilnya. Berikutnya, diberangkatkan menuju perusahaan masing-masing. Parkiran Taman Flora-pun menjadi saksi bagaimana repotnya mengatur siswa untuk masuk ke dalam Bus dan Bemo. Kami temukan keluhan “Lhoo naik bemo, tau gini aku nggak ikut.” dan “Aku nggak mau naik bemo,kak! Naik bus aja.” Antara ingin terbahak dan sebal jadi satu. Tapi dari situ bermakna, ini PR kita, membuat mereka tidak lagi menjadi sosok yang membedakan derajat.

Bus di KIS MlakuBus yang digunakan di KIS Mlaku

Di sepanjang perjalanan, saya tolah-toleh kesana-kemari dan menemukan siswa perempuan beda sekolah duduk sebangku sedang bercerita panjang lebar satu sama lain, lalu menemukan siswa laki-laki beda sekolah duduk bersebelahan yang sibuk bercanda. Saya nyengir dan berharap bahwa ini memang awalan yang baik. Sesampainya di perusahaan, para siswa akan bertemu dengan relawan pengajar yang memang bekerja di perusahaan tersebut dan mereka akan berbagi cerita mengenai profesinya serta melihat langsung bagaimana tempat kerjanya. Seru pasti kan?

Jika di TVRI, siswa akan dibawa ke dalam studio tempat biasanya digunakan untuk siaran dan akan diperlihatkan secara live bagaimana proses peliputan atau reportase. Hawa di studio yang sejuk membuat siswa kedinginan dan seringkali minta diantarkan ke toilet. Kedinginan-pun berbuah kelaparan sehingga beberapa siswa yang tidak sanggup menahan laparnya seketika berteriak “Luweeee!” tapi si anak kelaparan ini diajak ngobrol dengan kawan sebelahnya yang berbeda sekolah, seketika lapar musnah dan mereka sibuk ngobrol. Kelucuan itu tidak mengurangi antusias mereka mendengar relawan pengajar bercerita terlebih saat proses syuting.

Jika di MOLINA ITS, siswa akan diajak melihat seperti apa mobil listrik karya anak bangsa sehingga bisa memotivasi mereka untuk berkarya. Keseruan yang terjadi adalah saat siswa-siswa ini bisa berbaur dengan ramai riuhnya mulai disepanjang perjalanan hingga bahkan ada yang bermain smack down-an. Saat kunjungan-pun ada siswa yang bertanya pada kawan barunya “Dimana jedhingnya?” alih-alih menjawab malah yang ditanya balik bertanya pada fasilitator “Kak, jedhing itu apa? Ini nanya jedhingnya dimana”.

Jika di PUSVETMA, siswa akan diajak melihat ruang kerja para peniliti obat atau vaksin hewan. Beberapa siswa juga diminta untuk mencoba baju lab yang biasa dikenakan oleh para peneliti, tampak kebesaran dan begitu menggemaskan. Keseruan yang paling terasa ialah saat seorang veterinary melakukan uji coba vaksin pada tikus putih, vaksin tersebut disuntikkan di kepala si tikus lalu siswa berkerumun tanpa peduli lagi dari mana sekolah mereka berasal. Ada yang bergidik ngeri satu sama lain, jijik dan ada pula yang begitu penasaran dan mengajukan pertanyaan “Kenapa disuntiknya harus di otak?”

Kegiatan di PusvetmaKegiatan KIS Mlaku di PUSVETMA

Jika di PROVEST, siswa akan diajak untuk bertemu dengan profesi yang berkecimpung dalam dunia pengembang pemukiman seperti arsitek. Yang menarik adalah ada salah seorang siswa dengan bertubuh standar seringkali menggoda siswa bertubuh besar, yang mana keduanya berbeda sekolah. Cara menggodanya-pun lucu, dengan menubrukkan diri dibadan siswa besar. Di sepanjang perjalanan hingga detik terakhir pulang, keduanya nampak begitu akrab akibat seringkali menggoda dan digoda itu. Cerita menarik lainnya ialah saat siswa diberi soal oleh pengajar dan hanya ada satu siswa yang jawabannya paling tepat, siswa ini berasal dari sekolah berkategori kurang mampu. Hal ini mengartikan bahwa semangat dan ketekunan tidak pernah memandang derajat.

Jika di AUTO2000, siswa akan diajak melihat sederetan mobil dan bermimpi harus memilikinya suatu hari nanti. Ya, auto2000 ialah dealer yang berfokus pada pelayanan dan service mobil sehingga siswa akan masuk dalam ruang bengkel untuk melihat proses perawatan mobil serta diajak menuju kasir untuk mengetahui proses pembayaran. Anak-anak begitu semangat saat diajak untuk belajar menghitung uang dengan 3 jari menggunakan mesin. Tidak peduli lagi dari mana sekolah mereka berasal, kenal atau tidak yang penting berebut untuk bisa dengan jelas merasakan menghitung uang menggunakan mesin.

Kegiatan di perusahaan berakhir dan rombongan kembali ke Taman Flora. Lensa para fotografer dan videografer sejak awal keberangkatan hingga kembali ke lokasi pertemuan tidak kenal lelah menangkap momen keceriaan anak-anak ini. Sesampainya di taman Flora beberapa dari mereka lupa akan rasa lapar lalu sibuk menggandeng kawan barunya untuk berkeliling, berfoto, dan berkejar-kejaran. Bahkan ada gerombolan siswa laki-laki yang sedang meributkan bagaimana meminta nomor hp siswa perempuan dari sekolah lain yang menjadi incaran. Lucu!

Perbedaan itu begitu cantik ya? Bisa jadi hingga beberapa tahun ke depan siswa yang tadinya tidak tahu arti jedhing akan selalu menggunakan bahasa itu untuk menyebut kamar mandi, bisa jadi akan ada kisah romansa antara sekolah a dengan sekolah b setelah saling tukar nomor hp atau pin bb. Hal yang jelas terjadi adalah akan terpatri di hati mereka tentang hari ini; hari dimana pertama kalinya naik bemo dan bus, hari dimana mereka bertemu dengan kawan sebaya dari beda sekolah, hari dimana pertama kalinya mereka mendengar kosakata baru, dan hari dimana mereka akan merindukan momen bercanda serta berbagi tawa dengan kawan barunya.

Perbedaan itu cantik ya? Saya dan kawan-kawan lainnya, baru saja menyadari bahwa kami telah mengamalkan bhinneka tunggal ika. Bukan terhadap diri kami sendiri, namun terhadap mereka para generasi penerus. Menyatukan keberagaman tanpa melihat harkat dan derajat. Semoga apa yang kami lakukan dan perjuangkan akan berbuah sangat manis di masa depan. Kami meyakini bahwa kami sedang melakukan hal baik, dan seberapa-pun itu meski kecil, kebaikan tidak akan pernah percuma. Dalam perjalanan ini mereka telah memberi impian lalu kita memberi cinta serupa doa agar Tuhan dan semesta mengamini mimpi-mimpi itu. Sekian dan semoga catatan kecil perjalanan KIS Mlaku ini bermanfaat.

Impian dan cinta akan saling memberi satu dengan yang lain, serupa dengan apa yang dilakukan matahari ketika mendekati malam dan yang dilakukan bulan ketika mendekati pagi. – Kahlil Gibran

Relawan KIS MlakuRelawan KIS Mlaku saling memberi semangat

 

Oleh : Rafika Nilasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares