7_1439969039755

Berbicara tentang kapan terakhir mengibarkan bendera merah putih, saya lupa. Hingga akhirnya saya kembali berdiri di barisan dengan khusyuk mengikuti proses pengibaran bendera, meski bukan saya yang mengibarkan. Terik matahari dan angin pantai menjadi saksi upacara kemerdekaan saya dan kawan-kawan. Iya, Kami; Kelas Inspirasi Surabaya sengaja mengadakan upacara kemerdekaan di pesisir pantai Pulau Gili Labak – Sumenep, Madura.

Perjalanan ini bermula untuk melepas kepenatan sejenak tanpa melepaskan nasionalisme kami. Persiapan yang singkat, dari mencari pasukan – mempersiapkan peralatan – membuat rencana kegiatan maka berangkatlah kami dihari Minggu pagi (16/8) dengan semangat ala anak-anak meski kami tau ada rasa khawatir yang tiba-tiba datang karena hembusan angin. Banyak berdoa adalah satu-satunya jalan agar alam mengizinkan mimpi dan angan-angan kami untuk menikmati pesona Gili Labak. Jumlah kami 24, akan heran jika kami mematuhi jadwal kegiatan yang sudah tertulis tanpa meleset sedikitpun 😀 .

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan kurang lebih 5 jam tibalah kami di Pelabuhan Kalianget untuk melakukan penyeberangan berdurasi sekejap ke Talango menggunakan kapal besar. Sesampainya di pelabuhan Talango, kami melanjutkan perjalanan sekitar 1 jam menuju Desa Kombang, tempat peristirahatan dan parkir mobil sebelum melakukan penyeberangan ke Pulau Gili Labak dengan waktu tempuh 1 jam bisa lebih tidak bisa kurang. Sedikit informasi, untuk menuju Pulau Gili Labak sebenarnya bisa langsung dari Pelabuhan Kalianget dengan perahu nelayan namun waktu tempuh sekitar 2-3 jam.

Sayangnya, kami sampai di Desa Kombang ini terlalu sore dengan keadaan angin laut yang kata Pak perahu cukup membahayakan jika tetap menyeberang. Setelah menimbang-nimbang maka diputuskan untuk menyeberang esok pagi ba’da subuh karena dipastikan air dan angin laut cukup bersahabat. Rencana berubah tapi tidak untuk upacara, kami tetap mempersiapkan dan akan latihan. Tidak di pantai dengan deburan ombak, melainkan di teras rumah Pak Rudi beralaskan tikar. Jadilah sore itu kami menikmati sunset dari pantai karang belakang rumah penduduk, tempat perahu nelayan bersandar yang mana saat itu air sedang surut. Matahari beranjak pergi, semburat jingga di langit dengan perahu-perahu bersandar sungguh menawan. Senja dimanapun selalu asyik bagi saya, selalu mengingatkan nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan.

Hari mulai gelap, sembari menahan kantuk kami latihan untuk upacara besok; menyanyikan lagu nasional dan lain sebagainya. Ada jadwal yang hampir terlewat, menyalakan kembang api sebagai tanda peresmian kegiatan berikutnya dari Kelas Inspirasi Surabaya. Setelah mengantongi izin keramaian dari salah satu rumah penduduk kami beranjak turun ke pantai karang dan akhirnya dengan susah payah akibat hembusan angin laut kembang api-pun nyala! Langit yang sudah meriah dengan taburan bintang semakin meriah dengan nyala kembang api. Tidak lupa, dokumentasi adalah hal yang wajib bagi kami sebelum beranjak kembali ke rumah Pak Rudi untuk beristirahat demi bisa menikmati sunrise di laut lepas. Malam itu, Allah kembali menawarkan keindahan di langit dan saya lebih memilih berlama-lama menikmati bintang yang bertaburan yang kata salah seorang kawan, bintang-bintang itu tengah membentuk rasi bintang scorpio. Subhanallah.

6.5

Esoknya, saat Adzan subuh mulai berkumandang satu per satu dari kami terjaga dan bersiap-siap untuk menuju destinasi impian, Gili Labak. Batal menikmati sunrise di laut lepas, kami resmi menaiki perahu pukul 06.00 dengan membawa perangkat upacara dan logistik serta mengenakan seragam oranye lengkap dengan life jacket. Dengan jumlah kami yang ber-24, 2 perahu nelayan cukup untuk menampung kami. Sekedar info bahwa diperlukan keahlian dalam tawar menawar untuk bisa mendapat harga sewa perahu yang pas di kantong, karena ada kawan yang sudah kenal Pak Rudi maka harga sewa perahu kami Rp 500.000,- per 1 unit, murah kan?

Air saat itu sedang pasang, jadi harus rela berbasah-basah dan untuk naik ke atas perahu ternyata tidak mudah terutama bagi kaum hawa. Siap! Perahu yang saya naiki sudah siap melaju tapi ternyata terhalang oleh karang-karang sehingga kurang lebih 20 menit tertinggal dengan perahu satunya. Para lelaki harus rela kembali basah untuk membantu mendorong perahu, dan nyatanya tidak sia-sia, perahu mulai bergerak maju dan mesin nyala. Kami akhirnya menikmati setiap desiran angin, buih ombak dan langit biru dengan tidak lupa berfoto serta tertawa, bercanda hingga kami lupa bahwa perjalanan kesana bukan hanya 15 menit. Melewati seperempat perjalanan, keadaan mulai suram, muka pucat tergambar dimana-mana. Ada yang teriak ketakutan, saling berpegangan erat, bibir komat-kamit bersholawat, dan kami saling menatap nanar satu sama lain hingga akhirnya tumbang dan muntah termasuk saya yang menjadi korban. Kami rasanya sudah mulai menyerah dengan sibuk pada pertanyaan berapa menit lagi sampai atau kapan daratan mulai tampak. Hingga akhirnya dari kejauhan lambat laun setelah perjuangan selama 1 jam lebih, kami mendarat di pulau kecil nan indah. Sesampainya disana, merasa bersyukur sekali dan loncat menjauh dari perahu meski khawatir bukan main membayangkan bagaimana perjalanan pulang nantinya. Sungguh, satu jam terlama dalam hidup terombang-ambing di tengah laut. Saya jadi ngeri membayangkan wisatawan yang menyeberang langsung dari Pelabuhan Kalianget.

4

Pulau Gili Labak ini lebih indah daripada yang kita lihat di Google meski saat kami kesana sedang ramai pengunjung. Subhanallah. Segala macam rasa lelah rasanya terhapus ketika kami berjalan jauh dan lebih jauh lagi menyisiri pulau ini untuk mencari tempat yang sepi demi upacara. Laut yang bening, perahu-perahu yang bersandar, langit yang biru, dan hamparan pasir putih benar-benar cocok untuk kita yang sedang mencari tempat pelarian dan kebahagiaan. Too beautiful to be real! Teriakan kawan-kawan mengingatkan beberapa dari kami yang sudah asyik berfoto dan mencicipi air pantai hingga lupa dengan tujuan awal kami kemari, upacara. Akhirnya segala persiapan selesai dan upacara dimulai dengan peserta yang apa adanya. Saya sendiri berdiri sebagai paduan suara yang hanya berisikan 3 orang. Tetap menyenangkan terlebih saat bendera mulai berkibar, ada perasaan haru luar biasa mengingat kami saat itu sedang berdiri di Pulau kecil nan indah milik Indonesia, bertanya-tanya ngeri apa yang terjadi jika 70 tahun lalu pahlawan kita tidak berhasil me-merdeka-kan Indonesia. Upacara berjalan dengan khusyuk dan khidmat, meski hembusan angin agak mengganggu teks yang dibacakan Pembina upacara, meski tidak berseragam dengan baik karena harus menambah atribut seperti topi dan kacamata. Bendera berkibar, upacara selesai dan waktunya mencicipi air asin. Kamera para fotografer handal-pun seakan tidak rela untuk berhenti membidik berbagai sudut pulau dan tingkah polah kami yang bermain-main. Sekitar 2 jam kami bermain-main sekaligus mengisi kekosongan perut akibat terkuras habis di tengah laut, kurang memang tapi sudah sangat menyenangkan. Saya dan beberapa kawan menyempatkan diri untuk berjalan menyisir pulau kecil ini sebelum kembali ke perahu. Sedikit kecewa karena melihat sampah-sampah yang tersebar di bibir pantai, entah itu sampah pengunjung atau sampah laut atau dahan tanaman yang kering lalu menjadi sampah.

Kesenangan mulai berakhir saat life jacket terpasang dan mulai menaiki perahu dengan berbekal keyakinan bahwa perjalanan pulang akan baik-baik saja. Namun kenyataan memang terkadang pahit. Nyatanya perjalanan pulang jauh lebih mendebarkan, angin lebih kencang dan ombang yang kian tinggi dan saya juga semakin mabuk meskipun beberapa kawan bisa tertidur lelap di perahu. Bagi saya, antimo sungguh tidak mempan. Sungguh, terombang-ambing di laut lepas dengan ombak yang kurang bersahabat rasanya tidak bisa dilukiskan dan benar-benar menyadarkan diri bahwasanya kita teramat sangat kecil, Allah begitu Maha Agung. Rasanya seperti terbebas dari maut kala daratan sudah nampak dan satu per satu turun dari perahu.

IMG-20150818-WA0001

Perjalanan ini tak ternilai harganya. Perjalanan yang menguras tenaga dan biaya ini sebanding degan pulau indah yang kami singgahi. Perjuangan mulai dari berangkat hingga tiba di pulau dan melaksanakan upacara kemerdekaan, saya rasa jauh lebih indah dari cerita manapun, karena kita berperan menjadi sang tokoh. Perjalanan ini mengingatkan kita betapa pentingnya mencintai Indonesia melalui cara masing-masing tanpa membandingkan dengan bangsa lain Perjalanan ini mengajarkan arti kebahagiaan sesungguhnya bersama dengan orang-orang spesial yang luar biasa. Perjalanan ini tidak hanya tentang bagaimana kita bisa sampai di tempat yang indah namun bagaimana kita bertahan dan saling menguatkan. Perjalanan ini mengingatkan akan kebesaran Allah dan bagaimana kerdilnya kita, menyadarkan seringkali kita lupa bersyukur dan lupa untuk berserah diri hanya kepada-Nya. Perjalanan ini sungguh menyadarkan bahwa Allah dengan segala caranya menakdirkan kita untuk bertemu dan berbagi kebahagiaan. Terima kasih kawan-kawan KIS, sampai jumpa di perjalanan berikutnya!

*nb: Jika ada yang kembali bertanya mengapa saya bisa kuat, maka jawabannya adalah karena saya punya Allah yang menguatkan hati saya.

Artikel oleh : Rafika Nilasari

Video selama perjalanan di Gili Labak :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares