Kegiatan yang 9 to 5 tiap hari selama hampir seminggu, adalah menu rutin bagi kami para pekerja/professional. Sisa waktunya? Ya buat keluarga, teman, dan istirahat atau recharge energy untuk aktifitas kerja minggu berikutnya.

Lalu bagaimana dengan kegiatan sosial? Tentulah kami ingin berbagi dan bermanfaat buat orang lain. But how?

Kelas Inspirasi bisa jadi adalah salah satu jawaban bagi kami yang peduli dengan pendidikan di Indonesia yang ‘menurut pakar’ masih jauh dari ideal.
Promo gencar di media sosial sungguh menggoda. Bahwa Kelas Inspirasi lahir setelah Indonesia Mengajar, makin menguatkan kami bahwa gerakan ini dahsyat diikuti sebagai sumbangsih warga Negara bagi majunya pendidikan di Negara kita.

Hak kami berbagi ternyata di wadahi melalui kelas inspirasi. Alhamdulillah.

1

Para Inspirator, dari kiri Pak Arif, Pak William, dan Bu Lusi

Terpilih menjadi relawan pengajar di kelas Inspirasi itu ‘sesuatu’. Saya dan dua orang teman sesama relawan (William Widarto -seorang Head Hunter- dan Arif Roeswinarto -seorang Banker-), adalah orang yang sibuk. Bahkan saking sibuknya, saat cuti kerja di hari mengajar, William pamit lebih dulu karena harus rapat mendadak dengan Pimpinan dari Jakarta.

SD Menur Pumpungan IV

Mengetahui lokasi penempatan mengajar saat pembekalan para relawan, membuat saya berpikir : seperti apa ya sekolah ini nanti? Kebetulan Kepala Sekolah SD Menur Pumpungan IV berhalangan hadir saat briefing sebelum Hari Inspirasi (hari dimana diadakannya Kelas Inspirasi). Akhirnya kami (3 relawan pengajar, 2 fasilitator, dan relawan fotografi) memutuskan survey ke lokasi.
Hari H Survey, saya datang lebih dulu dari teman-teman. Melihat gedung sekolahnya, hhhmmm bagus. Sempat mikir, kenapa kami ditempatkan di sekolah yang gedungnya bagus ya? Ternyata saya salah. Setelah bertemu dengan kepala sekolah (Pak Saleh), saya baru tahu bahwa SD Menur Pumpungan IV ini baru mendapat dana dari pemerintah untuk renovasi gedung karena nyaris ambruk (terjawab sudah pertanyaan saya).

“Murid – murid di sini kebanyakan tidak mampu. Orang tua mereka ada yang buruh cuci, buruh bangunan, kerja serabutan bahkan ada yang pengangguran.” Mendengar penjelasan Pak Saleh, saya nangis, saya bersyukur bahwa Allah telah mengirim kami di tempat ini. Meski Cuma mengajar sehari, kami bertekad apa yang kami lakukan dapat menginspirasi anak-anak.

Meski cuma sehari tapi telah menyadarkan kami bahwa ‘kenyataan tak indah’ ini ada di sekeliling kita. Di sebuah tempat yang kanan dan kirinya berdiri kampus-kampus ternama di Surabaya. Ya, di SDN Menur Pumpungan IV Surabaya.

Pak Arif ketika akan menunjuk seorang siswa

Bu Lusi ketika mengajar tentang public speaking

Mengajar dan mengajak anak-anak happy dalam meraih cita-cita, merekonstruksi mimpi, membuat pilihan dalam hidup, dan meyakinkan mereka bahwa semua yang mereka inginkan bisa terwujud melalui perjuangan, telah menjadi candu bagi kami.

Kelas Inpirasi telah membuat ruang ekspresi bagi kami yang dianggap seolah tak peduli pada masyarakat marginal karena alasan klise : sibuk. Benar bahwa, melakukan perubahan itu kudu diawali dari yang kecil, dari diri sendiri. Tapi ingat, yang kecil ini nanti akan bergulung-gulung seperti bola salju. Kelas Inspirasi akan menjadi seperti itu.

Dari tim kecil inilah kami (saya, William, Arif, dibantu Fasilitator : Fauzi, Inge serta Arina) ingin kembali bersedekah ilmu di tempat yang sama. Semangat ini harus terus dikawal. Bola salju ini mulai bergulung-gulung.

Foto bersama antara relawan dengan para siswa

Ditulis oleh Lusi Sophiati Andajani
(saat menjadi relawan pengajar masih bekerja sebagai seorang Praktisi Penyiaran Radio)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shares